Headlines

mualaf

soccer

Culture

Paska kemenangan gemilang Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada Pemilu Lokal Turki, media-media nasional Israel terus menyoroti partai pimpinan Erdogan itu. Haaretz menyebutnya sebagai kemenangan ”The Islamist AKP”. Sedangkan The Jerusalem Post mengutip Harold Rhode -mantan penasihat urusan Islam di Kementerian Pertahanan AS- menyebut kemenangan AKP sebagai “kemenangan Ikhwanul Muslimin”, “kemenangan Arab Islam”, dan “kemenangan Turki Islam.”

Sebelumnya, anggota Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas Izet Rasyq, Senin (31/3) lalu, mengatakan bahwa kemenangan Erdogan akan membuat marah penjajah Zionis dan semua orang yang bertaruh akan jatuhnya partai AKP Turki karena sikap berani Erdogan terhadap isu bangsa Arab dan umat Islam. 

“Kemenangan ini akan berdampak secara positif bagi isu Palestina. Terutama karena Turki di era Erdogan mendukung hak Palestina dan kemauannya yang menolak penjajah Zionis. Turki memiliki sikap yang superior terhadap yahudisasi al Quds dan blokade yang diberlakukan terhadap Jalur Gaza,” kata Rasyq seperti dikutip InfoPalestina.

Rasyq menegaskan bahwa dukungan rakyat yang besar pada partai AKP Turki memiliki bukti-bukti internal melalui dukungan jalur demokrasi dan jatuhnya kampanye negatif terhadap AKP. Dukungan itu juga memiliki bukti-bukti eksternal bahwa rakyat Turki sangat setuju dengan kebijakan luar negeri pemerintahnya, terutama sikapnya terhadap revolusi Arab dan dukungannya pada hak-hak rakyat Arab dalam menentukan nasibnya dan membangun system demokrasi modern.

Rasyq mengungkapkan sangat senang dengan kemenangan besar yang diperoleh partai AKP Turki yang dipimpin oleh PM Erdogan dalam pemilu lokal Turki. 

Secara resmi, Perdana Menteri Palestina Ismail Haniyah dan Presiden Palestina Mahmud Abbas juga telah menyampaikan ucapan selamat kepada Erdogan. [IK/bersamadakwah]

http://www.bersamadakwah.com/2014/04/kemenangan-erdogan-membuat-israel-murka.html
Perkenalkan: Habib Dr. Salim Segaf Al Jufri. Menteri Sosial Republik Indonesia 2009-2014. Beliau selalu tidur di rumah penduduk kala menyambangi mereka ke daerah-daerah. Beliau bekerja dalam diam. Tanpa ekspos tinggi media.

Beliau mensos sedang tidur di rumah warga kampung Pelag, Garut. Tadi pagi (Jumat, 14/3/2014) kerja bakti bedah kampung bersama Waket DPR RI.

Dan... lihatlah bagaimana posisi beliau tidur... sesuai sunnah Nabi.

Sejak 2011 sudah 45an kampung yang dibedah, sekitar 30an rumah ditiduri Mensos sebelum dibedah.
Bedah kampung: inovasi program rehabilitasi rumah tak layak huni. 

Habib Salim Segaf termasuk qiyadah (pimpinan) senior PKS. Pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Syariah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Beliau adalah cucu dari ulama besar Palu, Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau lebih dikenal dengan nama “Guru Tua” pendiri yayasan Al-Khairaat.

sumber : http://www.pkspiyungan.org/2014/03/mensos-habib-salim-selalu-tidur-di.html
Islamedia - Oleh-oleh istimewa dari isra' mi'raj Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam adalah perintah shalat, sebuah ibadah khusus yang mengandung gerakan sujud. Sejalan dengan hasil penelitian, sujud ternyata memiliki manfaat yang sangat luar biasa. Salah satu orang yang membuktikannya adalah Prof Dr Ahmad Zahro.

Dengan memperlama sujud dalam shalat, Direktur Masjid Al Akbar Surabaya itu sembuh dari dua penyakit yang para dokter sudah angkat tangan.

"Saat itu saya memimpin haji, saya terkena penyakit hernia. Sudah begitu, tambah satu penyakit lagi yang saya tidak tahu namanya. Yakni lutut terasa sakit seperti kram ketika hendak bersila maupun bangkit dari duduk," kata Zahro pada peringatan Isra' Mi'raj di Masjid Al Inabah Pemda Gresik, Selasa (11/6).

Guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya itu sudah berobat ke beberapa dokter, namun tak kunjung sembuh. Menurut para dokter, hernianya hanya bisa disembuhkan dengan operasi.

"Padahal saya takut operasi," lanjut pria kelahiran 7 Juni 1955 itu.

Sedangkan untuk penyakit lututnya, dokter dari Mesir menjelaskan bahwa itu karena faktor usia.

Prof Zahro meyakini bahwa segala penyakit pasti ada obatnya. Dan kebetulan, pada waktu itu ia juga membaca hasil penelitian Dr Muhammad Dhiyaa'uddin Hamid tentang sujud. Menurut hasil penelitian itu, sujud bisa menghilangkan zat-zat atau pun hal-hal yang menyebabkan sakit. Listrik dan medan magnet yang dihasilkan oleh tubuh menyebabkan gangguan dan merusak fungsi organ tubuh sehingga akhirnya mengalami penyakit kejang-kejang otot, radang tenggorokan, mudah capek atau lelah, migrain, dan penyakit serupa lainnya.

Dengan bersujud kepada Allah dengan menempelkan dahi ke bumi (lantai), maka ion-ion positif yang ada di dalam tubuh mengalir ke bumi sebagai tempat ion-ion negatif. Seterusnya sempurnalah aktivitas penetralisiran dampak listrik dan magnet.

Sejak saat itu, Prof Zahro pun memperlama sujud dalam shalat-shalat sunnah. "Terus terang kalau dalam shalat wajib saya tidak memperlama sujud, khawatir makmumnya lari," kata Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) itu disambut tawa jamaah pengajian.

Selain memperbanyak dan memperlama sujud, Prof Zahro juga berdoa seperti yang diajarkan Rasulullah. "Allaahumma Rabbannnas, mudzhibal baas, isyfi, Antasy syaafii, laa syafiyya illaa Anta. Syifaa'an laa yughoodiru saqoman" (Wahai Allah Tuhan manusia, hilangkanlah rasa sakit ini, sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan yang sejati kecuali kesembuhan yang datang dari-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit).

Dan subhanallah, dua penyakit yang dideritanya pun kemudian sembuh sama sekali. [IK/lgs]

sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=587592491272833&set=a.192406337458119.50757.158262277539192&type=1&relevant_count=1&ref=nf
Ironis melihat beberapa status sahabat FB. Sesama muslim kok malah saling menjatuhkan, padahal sama-sama MENCOBA menegakkan Islam. Yang paling diuntungkan adalah orang-orang yang benci dengan Islam. Perbedaan pendapat, pemikiran, dan opini akan selalu ada, akan tetapi kearifan dan sikap menghargai yang masih minim. Selama sama-sama berusaha untuk menegakkan Syariat Islam kenapa kok saling menjatuhkan? Ada yang menyatakan : "Saya hanya mau membongkar kebusukan....bla..bla..bla.", atau " Kami hanya mau menyadarkan saja.....bla-bla-bla". Niatan bagus memang tetapi caranya yang perlu diperbaiki, jangan dengan saling menjatuhkan karena secara tidak sadar malah terperangkap dengan ADU DOMBA. Apalagi dengan sumber-sumber berasal dari Media-Media yang blm tahu kebenarannya secara langsung. Sebelum memperbaiki orang lain ada baiknya memperbaiki diri sendiri dengan 3M ( Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, Mulai saat ini). Insya Alloh Umat Islam akan bersatu bukan karena persamaan akan tetapi dengan menghargai perbedaan selama masih dalam koridor Islam itu sendiri.

Gereja Katolik Roma, yang pada tahun 1998 memiliki 1.217.800 orang, akan tetapi pada tahun 2005 jumlahnya turun menjadi 875.600 orang.

Banyaknya jumlah gereja yang terjual dan kosong di Inggris, disebabkan banyaknya warga Inggris yang enggan melakukan peribadatan. Untuk tahun 2007 saja, tercatat hanya 10 persen penduduk negara itu yang berangkat ke gereja tiap pekannya. Sedangkan 15 persen pergi ke gereja tiap bulannya. Adapun penduduk yang beribadah setahun sekali di gereja mencapai 26 persen. Dan mereka yang tidak pernah ke gereja sama sekali sudah mencapai 59 persen, sebagaimana hasil riset Tearfund (3/4/2007).

Penurunan anggota jumlah jama’ah beberapa komunitas Kristen, semakin lama-semakin meningkat tajam. Gereja Katolik Roma, yang pada tahun 1998 memiliki 1.217.800 orang, akan tetapi pada tahun 2005 jumlahnya turun menjadi 875.600 orang, artinya komunitas ini telah kehilangan 49 persen pengikutnya. Hal yang sama dialami komunitas Metodis, yang pada tahun yang sama telah kehilangan 44 persen pengikut. Dan yang paling parah adalah kondisi Serikat Gereja Reformasi, yang telah kehilangan 53 persen anggotanya, sejak tahun 2005, sesuai data hasil sensus gereja Inggris pada tahun 2005, yang dilansir National Secular Society (14/9/2007).

Antara tahun 1990 hingga 2001, seluruh gereja Inggris kehilangan 18 persen jama’ah pekanan, 17 persen rohaniawan, dan 1 persen dari bangunan yang mereka miliki. Dampaknya, sumbangan yang masuk ke “kantong” gereja berkurang hingga 3,5 milyar pound sterling, sebagaimana dilansir The Economist (8/4/2003).

Jual Gereja
Yang menyedihkan, bukan hanya sepi pengunjung saja, beberapa gereja juga ikut terjual. Di penghujung tahun 2007, boleh dikata sebagai tahun “menyedihkan” bagi para penganut Katolik yang bermukim di Bufallo, New York. Pasalnya, mereka tak bisa melakukan ibadah lagi di Queen of Peace, sebuah gereja besar nan ekstotik yang berdiri di jalan Genesee 1955. Hal itu disebabkan karena gereja yang telah dibangun tahun 1920 itu segera ditutup di akhir 2007, karena akan dijual!

Sebelumnya, hiasan-hiasan gereja sudah terlebih dahulu dijual ke sebuah gereja paroki Katolik di Colorado. Sedangkan sebagian besar bangku-bangku telah dibersihkan dan simbol-simbol Kristen telah dihapus.

Sebegaimana dilansir oleh The Bufallo News (18/4/2009) Penjualan gereja yang dirancang oleh arsitek ternama George Dietel itu digunakan untuk melunasi hutang gereja-gereja lainnya, serta hutang keuskupan atas pemeliharaan dan perbaikan-perbaikan segala properti yang dimilikinya.

Sebenarnya ada 4 pihak yang melakukan penawaran, akan tetapi transaksi akhirnya jatuh ke tangan Yayasan Darul Hikmah dengan harga 300 ribu dolar, atau senilai 2,8 milyar rupiah. Rencananya area gedung dengan luas tanah 15.875 kaki persegi dan sekolah dengan luas tanah 13.338 kaki persegi itu akan digunakan sebagai masjid dan pusat kegiatan para pemuda Muslim, yang bakal menyemarakkan aktivitas umat Islam New York, yang sebelumnya telah memiliki 9 masjid.

Gereja yang telah terjual sebenarnya bukan hanya Queen of Peace saja. Ia merupakan gereja Katolik kedelapan yang sudah terjual di Bufallo, semenjak tahun 2006. Dan Keuskupan masih juga berusaha untuk menjual 30 properti lainnya, 7 diantaranya gedung yang berada di kota itu.

Beberapa gereja Amerika lainnya, ada juga yang memiliki nasib serupa dengan Queen of Peace. Yakni, sengaja dijual, untuk menutupi kekurangan dana yang melanda komunitas gereja. Adalah gereja St. Matthew, sebuah gereja yang berlokasi di Indian Orchard juga dijual. Sebelumnya, gereja yang telah berusia 140 tahun lebih itu telah dipromosikan selama lebih dari satu tahun.

Gereja yang dibangun sejak tahun 1864 itu dibeli oleh Komunitas Islam Turki-Amerika, dengan harga 150 ribu dolar, atau sekitar 1,4 milyar rupiah. Dan pada bulan Oktober 2006, kepemilikan bangunan itu sudah resmi berpindah ke komunitas tersebut.

Pada awalnya, gereja tua itu dijadikan tempat ibadah para imigran Irlandia yang sebagian besar bekerja di pabrik-pabrik Indian Orchard dan Ludlow. Kegiatan di gereja itu sempat aktif selama beberapa tahun, kemudian didirikanlah Paroki St Matthew pada tahun 1879.

Komunitas Islam Turki-Amerika menginginkan bangunan tua itu, karena keanggotaan komunitas ini sudah mencapai 80 keluarga, sehingga mereka memerlukan tempat ibadah sendiri. Dan kemungkinan, tidak hanya anggota Komunitas Islam Turki-Amerika yang bakal meramaikan kegiatan ibadah di tempat itu, tapi komunitas Meshkitian Turki juga ikut bergabung. Mereka merupakan pengungsi dari bekas Republik Soviet Georgia. Mereka mulai menetap di wilayah itu setahun yang lalu. Demikian lansiran dari Catholic News (12/7/2006).

Nasib gereja Utica, juga nyaris sama dengan dua gereja di atas. Sebagaimana diberitakan oleh uticaod.com (28/3/2008), bangunan yang beralamat di 306 Court Street, yang lengkap dengan menara itu telah dinego, oleh Bosnia Islamic Assocation of Utica (Komunitas Islam Bosnia Utica) sejak Maret 2008 lalu. Mereka telah menemui Walikota David Roefaro, guna membahas kemungkinan penjualan bangunan bekas gereja yang dulu dimiliki oleh United Methodist Church (Persatuan Gereja Metodis) itu.

Penawaran itu disambut posistif oleh walikota, karena sejak bangunan itu beralih tangan ke pemerintah kota, tidak ada satu pihak pun yang berminat untuk membelinya. Bahkan pada tahun 2006 tagihan air sebanyak 208 dolar pun belum dibayar. Sedangkan untuk menghancurkannya, juga memerlukan biaya tidak sedikit, yakni membutuhkan biaya kurang lebih satu juta dolar.

Jika penjualan itu disetujui oleh Dewan Umum, maka di Utica akan hadir satu-satunya masjid bermenara, yang mampu menampung 600 jama’ah. Padahal di akhir tahun 2008 Bosnia Islamic Assocation of Utica yang mayoritas anggotanya adalah pengungsi itu telah membangun masjid di kawasan Albany Street dan Maria Street. Setelah sebelumnya mereka beribadah di masjid yang didirikan oleh Muslim Community Association (Perkumpulan Komunitas Muslim) di Kemble Street.
_____________________________
Masjid-Masjid Yang Dulunya Gereja

Di saat umat Kristen Inggris “lari” dari gereja, umat Islam ambil alih tempat mereka untuk dijadikan masjid. Di Peace Street 20 Bolton, berdiri sebuah gedung besar berkubah yang amat berwibawa, yang lengkap dengan menara. Tempat itu ramai dikunjungi warga Bolton, terutama yang memeluk Islam, bahkan tiap pekannya, ribuan umat Islam hadir di tempat ini, guna melaksanakan shalat Jumat. Gedung itu tidak lain adalah Masjid Zakariyya.

Sejarah berdirinya masjid itu, bukanlah kisah yang singkat. Kala itu antara tahun 1965 hingga 1967 umat Islam Bolton dan Balckburn belum memiliki tempat permanen untuk melaksanakan shalat. Untuk melakukan shalat Jumat saja, mereka melaksanakannya di The Aspinal, sebuah diskotik dan tempat dansa yang digunakan di malam hari, sedang siangnya di hari Jumat tempat itu dibersihkan para relawan guna dijadikan sebagai tempat melaksanakan shalat Jumat.

Karena jumlah jama’ah semakin bertambah, maka diperlukan tempat besar yang permanen. Dan dimulailah pencarian bangunan yang bisa digunakan sebagai masjid sekaligus islamic center. Pada tahun 1967, ada penawaran pembelian gedung bekas gereja komunitas Metodis, yang terpaksa dijual karena terbakar. Dengan dana sebesar 2750 pound sterling dari komunitas Muslim lokal, akhirnya bangunan itu menjadi milik umat Islam. Bangunan itulah yang kini disebut Masjid Zakariyya itu.

Tidak hanya Masjid Zakariyya, beberapa masjid Inggris pun memiliki kisah yang hampir sama dengan kisah masjid kebanggan Muslim Bolton itu, yakni sama-sama berasal dari gereja yang dijual, baik karena kehilangan pengikut, atau karena sebab lainnya. Berikut ini masjid-masjid yang dulunya merupakan gereja:

Masjid Jami’ London

Tempat ibadah ini juga dikenal dengan sebutan masjid Brick Lane, karena posisinya di Brick Lane 52. Bangunan berdinding bata merah itu, merupakan masjid terbesar di London, yang mampu menampung 4000 jama’ah. Walau demikian luas, masjid ini belum bisa menampung seluruh anggota jama’ah shalat Jumat, hingga sering kali jama’ah meluber ke jalan raya. Mayoritas anggota jama’ah merupakan keturunan Banglades, hingga wilayah tersebut disebut Banglatow.

Masjid ini memiliki sejarah yang sangat unik dan panjang. Awalnya, bangunan yang didirikan sejak tahun 1743 ini adalah gereja Protestan. Dibangun oleh komunitas Huguenot, atau para pemeluk Protestan yang lari dari Prancis untuk menghindari kekejaman penganut Katolik. Akan tetapi, karena jama’ahnya menurun, maka gereja ini dijual.

Di tahun 1809, bangunan ini digunakan masyarakat London untuk mempromosikan Kristen kepada para pemeluk Yahudi, dengan cara mengajarkan Kristen dengan akar ajaran Yahudi. Tapi, program ini juga gagal. Dan bangunan diambil oleh komunitas Metodis pada tahun 1819.

Komunitas Metodis cukup lama “memegang” gereja ini. Walau demikian, pada tahun 1897, tempat ini diambil oleh komunitas Ortodok Independen dan berbagi dengan Federasi Sinagog yang menempati lantai dua.

Tapi tahun 1960-an komunitas Yahudi menyusut, karena mereka pindah ke wilayah utara London, seperti Golders Green dan Hendon, sehingga bangunan ditutup sementara, dan hal itu berlanjut hingga tahun 1976. Setelah itu gedung itu dibuka kembali, dengan nama barunya, Masjid Jami’ London.

Masjid Didsbury

Masjid ini terletak di Burton Road, Didsbury Barat, Manchester. Gedung yang digunakan sebelumnya merupakan bekas gereja komunitas Metodis, yang bernama Albert Park. Gedung ini tergolong bangunan kuno, karena telah beroprasi sejak tahun 1883. Akan tetapi, pada tahun 1962 gereja ditutup, dan beralih menjadi masjid dan islamic center. Masjid ini, kini mampu menampung 100 jama’ah, dan yang bertanggung jawab sebagai imam dan khatib hingga kini adalah Syeikh Salim As Syaikhi.

Masjid Brent

Terletak di Chichele Road, London NW2, dengan kapasitas 450 orang, dan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Sadeez. Awalnya, bangunan itu merupakan gereja. Hingga kini ciri bentuknya tidak banyak berubah. Hanya ditambah kubah kecil berwarna hijau di beberapa bagian bangunan dan puncak menara.

Masjid New Peckham

Didirikan oleh Syeikh Nadzim Al Kibrisi. Terletak di dekat Burgess Park, tepatnya di London Selatan SE5. Kini masjid ini berada di bawah pengawasan Imam Muharrim Atlig dan Imam Hasan Bashri. Sebelumnya, gedung masjid ini merupakan bekas gereja St Marks Cathedral.

Masjid Sentral Wembley

Masjid ini terletak di jantung kota Wembley, dekat dengan Wembley Park Station. Daerah ini memiliki komunitas Muslim besar dan banyak toko Muslim yang berada di sekitarnya. Gedung masjid ini sebelumnya juga merupakan bekas gereja. Walau sudah terpasang kubah di puncak menaranya, tapi kekhasan bangunan gereja masih nampak jelas. Dengan demikian,siapa saja yang melihatnya, akan mengetahui bahwa bangunan itu dulunya adalah gereja.

Selian masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend juga sudah dibeli oleh Masjid Jami’ Essex dengan harga 850 ribu pound sterling. Gereja dijual, karena jama’ah berkurang, sehingga kegiatan peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskwensinya, gereja ini sudah tidak beroprasi sejak tahun 2006 lalu. Rancananya gereja akan dijadikan apartemen, tapi gagasan itu ditolak oleh Dewan Southend. Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di kota itu, yang juga sedang membutuhkan tempat untuk melaksanakan ibadah.

Saat itu jumlah komunitas ini mencapai 250 orang, “gereja bekas” itu merupakan tempat yang sesuai, karena mampu menampung 300 jama’ah. Tidak banyak dilakukan perubahan pada bentuk bangunan yang telah berumur 100 tahun lebih itu, hanya perlu menambah tempat untuk berwudhu dan sebuah menara. 

sumber :Hidayatullah.com

Pada hari Sabtu tepatnya tanggal 25 Mei kemarin, Ribuan anggota komunitas hijab atau yang biasa disebut dengan Hijabers Community mengadakan acara bertemakan ‘Hijab Day its Your Day’ yang diadakan di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Dengan dihadiri  Muhammad Assad, dan beberapa artis Ibu Kota seperti Dewi Sandra dan Marshanda  serta bintang tamu lainnya yang  saling berbagi inspirasi seputar hijab.
Para pendatang umunya remaja putri yang berpenampilan cantik dan menarik, mereka berkesan bahwa acara ini cukup membuat mereka terinspirasi.
Dalam acara tersebut tak hanya diisi dengan pengajian, talkshow, fashion clinic, inspiring, tetapi  diadakan pula acara ‘penggalangan 10.000 hijab untuk sesama’. Komunitas ini menyediakan satu Booth  untuk para hijabers yang mau menyumbangkan hijabnya, yang nantinya akan disumbangkan kepada yang membutuhkan. Tumpukkan-tumpukkan hijab yang siap disumbangkan membuat acara ini semakin terlihat bahwa komunitas ini tak hanya mementingkan fashion, tetapi juga jiwa sosial.
“Disini kami juga ingin berbagi kepada sesama, dan bagaimana memanfaatkan apa yang kita punya ke jalan yang baik. Ya salah satunya adalah berpartisipasi menyumbangkan hijab, Insya Allah apa yang kita lakukan akan bermanfaat” cetus salah satu anggota hijabers.
Para pengguna hijab yang hadir pun disuguhkan dengan fashion show dari salah satu butik yang menjadi pendukung acara, serta bazaar dari berbagai macam butik ternama. jadi selain menikmati acara, pengunjung juga dapat berbelanja baju muslim, hijab, serta aksesoris  sesuai selera.
Komunitas yang mengadakan pengajian pada setiap bulannya ini memang selalu menginspirasi.  Acara ini  bagian dari launchingnya Hijabers Community sekaligus didedikasikan untuk para perempuan dan khususnya remaja putri agar tertarik dan mau menggunakan hijab.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/05/26/33866/10-000-hijab-dari-hijabers-community/#ixzz2UP5QuwHq 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

BERBEDA dengan masyarakat biasa, ia lahir langsung menjadi rakyat tanpa melewati sejumlah seleksi. Sedangkan menjadi seorang pemimpin, tidak mudah dan sederhana. Ia diakui menjadi pemimpin melalui proses yang panjang dan alami (natural). Terlebih dahulu ia diuji keunggulannya dalam sebuah komunitas  yang ia berada di dalamnya.

Amanah kepemimpinan ini telah ditawarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala  kepada langit, bumi dan gunung, tetapi semuanya tidak menyanggupinya khawatir mengkhianatinya. Maka manusia siap memikulnya. Kemudian manusia berlaku zhalim karena miskin iman dan berbuat jahil karena kurang ilmu.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولاً

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat [tugas-tugas keagamaan, wadzifah diniyyah] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al Ahzab (33) : 72).

Memang,  tidak sederhana menjadi pemimpin. Disamping mendapatkan SK langsung dari Allah Subhanahu Wata’ala , pemimpin juga bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya. 
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al Baqarah (2) : 30).


Bahkan, kemampuan kepemimpinan Nabi Adam as setelah dibimbing langsung oleh Allah Subhanahu Wata’ala .

عَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!." (QS: Al Baqarah (2) : 31).
Jadi, ada dua dimensi tanggungjawab yang dipikul di atas pundak seorang pemimpin. Yaitu, mengadakan kontrak vertikal dan kontrak horizontal. Jika seorang pemimpin khilaf terhadap Allah Subhanahu Wata’ala  maka Ia adalah Maha Pengampun. Sedangkan manusia, pada umumnya pendendam. Jika terjadi haqqul adami (hak-hak anak Adam) yang dirampas, maka ia menanggung dosa yang manggantung. Allah Subhanahu Wata’ala  tidak menghapus dosanya sebelum ia menyelesaikan dengan yang dipimpinnya.

Seorang yang lemah dalam kompetensi dan komiteman dalam memikul jabatan pemimpin akan berakhir dengan penyesalan.

Pernah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam mengingatkan kepada sahabat Abu Dzar Al Ghiffari untuk berambisi menjadi pemimpin, karena menurut beliau ia adalah seorang yang lemah. Kelemahan itulah yang menjadi kendala untuk menjalankan roda kepemimpinan.
Setidaknya ada dua persyaratan pokok yang harus dipenuhi sebagai seorang pemimpin.  Di antara dua kode etik komitmen, sebagaimana sifat yang melekat dalam diri para utusan-Nya, yakni shiddiq (jujur antara perkataan dan perbuatan) dan amanah (dapat dipercaya).

Kemudian dua kode etik kompentensi adalah Tabligh (memiliki ketrampilan berkomunikasi dengan yang dipimpin) dan Fathonah (cerdas dan cepat dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapinya). Dua kode etik tersebut sudah menggambarkan sosok pemimpin yang ideal.
Keberhasilan dalam memikul amanat kepemimpinan, faktor keberuntungan dan keselamatannya di akhirat kelak.

ماَمِنْ عَشِيْرَةٍ اِلاَّ أَنْ يُؤْتَى يَوْمَ الْقِياَمَةِ مَغْلُوْلَةٌ يَدَهُ اِلَى عُنُقِهِ اِماَّ أَطْلَقَهُ عَدْلُهُ أَوْ أُوْبَقَهُ جُوْرُه

“Tidak ada satu pun penguasa yang menanggung keperluan rakyat melainkan pada hari keadilannya atau dibinasakan oleh kezhalimannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).


اَلْمُقْسِطَوْنَ عَلَى مَناَبِرِ مِنْ نُوْرٍ الذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِيْ حُكْمِهِمْ وَماَ وَلُّوْ

"Para pemimpin yang adil akan tinggal di atas panggung-panggung yang terbuat dari cahaya, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam memutuskan perkara dan mengurus ahli-ahlinya serta segala sesuatu yang diserahkan kepadanya.” (HR. Muslim, Nasai dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash).

Agar sukses melaksanakan kode etik tersebut, seorang pemimpin dituntut melaksanakan fungsi yang diembannya sebagaimana gelar yang disematkan pada seorang pemimpin dalam sejarah Islam. Gelar yang disematkan dalam diri pemimpin adalah Imam, Khalifah, Amir, Ra’in (khadim), dan Waliyyul Amr. Kelima gelar tersebut sekaligus menggambarkan fungsi yang dipikul di atas pundak seorang pemimpin.*

Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

sumber : http://hidayatullah.com/read/28387/02/05/2013/kontrak-para-pemimpin-dengan-allah--(1).html