Headlines

mualaf

soccer

Culture

Tetangga tepat di depan rumah kami tergolong keluarga mampu. Sang ayah pegawai negeri, bekerja di sebuah dinas kesehatan kota, anak-anaknya ‘jadi’ semua, mapan. Mereka punya pekarangan luas, berbagai macam tanaman ada didalamnya. Setiap musim buah tiba, entah itu rambutan, mangga, durian, nangka, klengkeng, dan beberapa jenis lagi yang saya tidak ingat, sempat membuat saya berpikir “Kenapa Allah tidak menjadikan saya sebagai salah satu dari keluarga mereka?” Rumah dan halaman yang luas juga memungkinkan kami, anak-anak bisa leluasa bermain disana. Tapi saya sering dilarang oleh orang tersebut “Sssstttt....!”katanya, “Jangan main disini!”.

Keberadaan keluarga mereka membuat saya iri. Bagaimana saya tidak iri, jika secara materi mereka mapan, kelihatannya tenteram tidak kekurangan suatu apapun? Bahkan Pak Lurah waktu itu adalah kerabat dekat mereka, suatu posisi dimana mereka akan bisa mendapatkan kemudahan dalam hal misalnya kepentingan mendapatkan surat-surat.

Tidak jauh dari rumah kami, sebelah timur, juga ada sebuah keluarga yang enam anak-anaknya semua pniter. Subhanallah! Ada yang jadi dokter, 5 orang yang saya tahu sarjana semua, lulusan perguruan tinggi negeri. Secara finansial mereka tidak kekurangan. Mereka nampak bahagia sekali. Saya lihat si ayah sesudah masa pensiunnya, aktif di masjid. Sayangnya saya tidak kenal dekat dengan beliau sehingga hampir tidak pernah berbicara. Beliau kelihatannya juga kurang begitu senang jika kita banyak bicara. Saya sempat iri melihat mereka, kenapa Allah tidak jadikan saya sebagai orang yang seperti keluarga mereka: mampu, pinter, dan terpandang di kampung?

Di belakang rumah, sekitar 25 meter jaraknya juga demikian. Ada pula sebuah keluarga mampu yang anaknya hanya tiga orang. Mereka sepertinya tidak pernah mengalami kesulitan keuangan untuk memilih sekolah mana saja yang diinginkan. Yang tertua sudah bekerja sebagai pegawai negeri. Yang kedua dan ketiga sedang kuliah. Rumah mereka bagus, punya toko di depan rumah, perabotan rumah yang indah. Pokoknya bisa membuat semua orang iri, temasuk saya. Bagaimana saya tidak iri melihat kebahagiaan mereka? Seorang rekan saya sempat menjadi guru private anak-anaknya ketika di SD dan SMP.

Di bangku sekolah, saya sempat iri melihat tiga orang teman saya, semuanya dari desa, namun pinter membaca Al Quran, bahkan mendominasi acara-acara keagamaan. Kalau sudah tiba acara yang berbau agama, ketiga orang tersebut muncul, padahal dalam hal pengetahuan sekolah mereka biasa-biasa saja. Namun kenapa saya iri?

Pada saat kerja, ada seorang rekan yang sebaya yang dimata saya, lengkap kehidupannya. Pengetahuan boleh, pekerjaan mapan, harta ada, agama pun tidak ketinggalan. Bagaimana saya tidak iri jika melihat orang-orang yang ada disekitar saya, teman-teman saya, memperoleh kehidupan yang layak, sementara saya? Astaghfirullah!

Rumput tetangga nampak lebih hijau. Begitu kata pepatah populer yang melukiskan bahwa kebahagiaan atau nasib baik seseorang akan nampak atau kelihatan lebih jelas di mata orang lain. Iri, kalau saya boleh sebut demikian agar lebih ‘lunak’ ketimbang ‘cemburu’, adalah hal yang wajar menimpa kehidupan manusia. Hanya orang yang kurang ‘waras’ yang tidak memiliki rasa iri ini. Orang bisa iri karena berbagai sebab seperti pada contoh-contoh kehidupan nyata diatas. Orang iri bisa disebabkan karena adanya ketimpangan harta, kedudukan, rumah, pakaian, ketampanan, kecantikan, kecerdasan, pendidikan, pengalaman, hingga persoalan agama. Melihat macam-macam penyebab iri ini, jika dirangkum pada dasarnya hanya ada dua: iri dalam artian positif dan iri negatif.

Kenapa kita bisa iri? Manusia tidak lepas dari kebutuhan, apakah itu fisik, psikis, sosial serta spiritual. Keempat kebutuhan manusia ini menuntut adanya keseimbangan pemenuhannya. Jika salah satu tidak terpenuhi, maka akan terjadi gangguan keseimbangan. Namun demikian, kebutuhan orang perorang itu relatif, artinya, seorang petani meskipun kerja sehari-harinya di sawah bukan berarti dia tidak membutuhkan pendidikan. Dia tetap butuh, sekalipun pelaksanaannya tidak harus di bangku sekolah. Sang petani bisa saja menanyakan perihal pertanian kepada teman-teman sesama petani, atau anggota keluarga yang secara tradisi menekuni bidang tani, atau kepada penyuluh pertanian. Kegagalan memperoleh pendidikan dasar pertanian ini akan mengakibatkan misalnya gagalnya panen, rusaknya tanaman karena pengelolaan yang kurang profesional, dan lain-lain. Demikian pula di bidang perdangangan, untuk pandai berdagang misalnya, seseorang tidak harus kuliah ekonomi. Relatif!

Di bidang sosial petani juga membutuhkan teman, karena di desa-desa kita, sudah menjadi tradisi umum kalau lahan pertanian itu dikerjakan secara berkelompok. Akan aneh bila petani memiliki sifat individu yang tinggi yang akibatnya akan sangat merugikan diri sendiri. Pula halnya pemenuhan kebutuhan psikologis lainnya juga amat penting, misalnya dukungan moral dari keluarga, kerabat, terhadap sebagai contoh jenis tanaman yang akan dibenih kelak. Sebagai orang yang beragama, tinggal di tengah-tengah masyarakat, seorang petani juga perlu pemenuhan akan hal yang satu ini, mulai dari sholat wajib yang dilaksanakan di mushollah atau masjid, hingga acara-acara dimana unsur agama akan terlibat didalamnya; pernikahan, kelahiran, kematian, hingga acara rutin pengajian.

Kegagalan memenuhi salah satu kebutuhan tersebut dalam tahap dini akan menjadikan bibit-bibit tumbuhnya perasaan iri pada diri kita. Kalau perasaan ini semakin bertumpuk akan menjadi kronis dan berdampak negatif terhadap berbagai segi kehidupan, mulai fisik hingga spiritual. Orang yang merasa iri karena tetangganya selalu berpakaian mahal, akan terangsang untuk bersaing, berupaya sekuat tenaga bagaimana agar bisa membeli pakaian yang jika mungkin lebih mahal dari yang dikenakan tetangganya. Hati dan perasaannya akan terasa panas jika keinginannya tidak terpenuhi, stres jadi meningkat, nafsu makan berkurang dan ....sakit!

Meski rasa iri ini bertendensi negatif, bisa pula iri ini digunakan sebagai tool untuk merangsang diri kita supaya lebih maju dari pada orang lain. Tengok saja panggilan adzan ‘Hayya alal falaah..’ berlomba-lombalah menuju kebaikan. Ini berarti kita diijinkan menggunakan rasa iri sebagai suatu yang bertujuan positif. Hal yang demikian itu tidak mudah, membutuhkan latihan serta kesabaran. Training! Perlu berbagai upaya yang keras agar bisa tercapai. Beberapa resep dibawah ini bisa membantu agar rasa iri yang negatif bisa berubah menjadi positif :

1. Pemahaman diri. Memahami diri sendiri berarti mengetahui: siapa saya, dimana saya berada, kemana tujuan saya, apa yang saya kerjakan, mengapa saya melakukannya dan bagaimana kondisi saya. Kalau kita lihat contoh petani diatas, jika seorang petani menyadari bahwa dia adalah seorang petani sederhana yang tinggal di desa dekat persawahan, sehari-hari kegiatannya bergelut dengan alat-alat pertanian, tidak mengenakan sepatu jika berangkat kerja, dan latar belakang kenapa jadi petani ya...mungkin saja karena tradisi keluarga, maka tidak ada gunanya jika petani tersebut merasa iri terhadap tetangganya yang bekerja di rumah sakit yang setiap hari harus tampak rapi, berpakaian putih, dan harus selalu terkesan bersih. Seringakli kita terjebak akan kelemahan memahami diri sendiri ini. Kegagalan menempatkan diri sendiri pada proporsi yang sebenarnya akan berakibat tumbuhnya kecemburuan yang kurang sehat.

2. Pemanfaatan potensi. Ada kalanya orang iri karena dia tidak cantik atau tampan. Padahal kecantikan dan ketampanan adalah persoalan yang amat relatif seperti halnya quality. Kita bisa merubah diri kita menjadi cantik atau tampan apabila kita mampu memanfaatkan potensi yang ada didalam diri ini secara maksimal. Karena setiap pribadi dibekali oleh Allah SWT bakat-bakat yang akan tumbuh jika dilatih dengan baik. Seorang yang berbakat menulis tidak akan bisa menjadi penulis yang baik tanpa latihan. Orang yang tidak memiliki bakat menulis pun asalkan mau melatih diri menulis dengan tekun, akan bisa menjadi seorang penulis yang handal. Hasil tulisannya bisa saja mempengaruhi banyak orang. Buahnya? Secara otomatis orang akan memberikan penghargaan bagi kita. Jika kita sudah dalam posisi yang demikian, kecantikan dan ketampanan akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu memoles jasmani.

3. Yang terakhir dan yang paling penting adalah syukur. Selalu mensyukuri nikmat Allah SWT atas segala kebaikan yang dilimpahkan kepada kita karena Allah Mahaadil itu utama. Lihat saja Pulau Madura yang kering ternyata bisa menghasilkan Batik Madura yang terkenal, jagung, garam, hingga aneka makanan laut yang bisa dinikmati oleh manusia di pulau-pulau lain. Pasuruan yang katanya panas, namun rasa mangganya tidak ada yang menandingi, sehingga Malang pun yang konon kaya akan buah dan sayur, harus memborong dari sana. Jika sudah tinggal di Pasuruan, kenapa harus iri untuk bisa memiliki villa di Malang? Banyuwangi kaya akan pisangnya, Madiun terkenal akan durian dan brem nya, dan lain-lain. Seorang PRT kelihatannya tidak bisa apa-apa, namun apa jadinya rumah yang biasanya bergantung kepada PRT jika dia harus cuti atau sedang sakit? Mobil yang mewah tidak berarti apa –apa tanpa keterlibatan buruh pabrik karet. Karena itulah kita wajib bersyukur terhadap nikmat yang besar ini.

Menanggulangi perasaan yang satu ini tidak semudah membalik tangan. Iri bisa berbahaya sekali apabila tidak diantisipasi. Orang bisa terjerumus ke dalam jurang yang lebih curam hanya karena persoalan yang sepele. Oleh sebab itu kita harus hati-hati menghadapi penyakit ini. Pemahaman terhadap diri sendiri, pemanfaatan potensi, serta senantiasa bersyukur kepada Allah barangkali sejumlah langkah yang bisa dimanfaatkan untuk penanggulangannya. Yang lebih penting lagi adalah adanya kesadaran bahwa hidup ini harus diperjuangkan. Dengan begitu InsyaAllah kita bisa kebal dan tidak mudah terkotori oleh virus kronis yang sudah menginfeksi semua sendi kehidupan ini. Wallahu a‘lam!

sumber : eramuslim

Di mobil, perjalanan ketika suamiku baru menjemput aku di eki (stasiun) setelah tiba dari perjalanan ke luar kota. “Mas,... tadi abang (panggilan untuk putra sulung kami) jadi latihan karate khan ?”, tanyaku. 

“Jadi koog, tau ngga dek, tadi abang waktu mas bangunin tidur siang bilang apa ?. Masa’ abang baru aja melek langsung bilang gini, “Abi, okoshitekurete arigatou nee”. (Abi udah bangunin abang makasih yaa…). 

“Anak itu emang udah nihonjin (orang Jepang) banget kog perasaan”, komentar suamiku lebih lanjut. Aku hanya tersenyum, sambil membayangkan si abang. 

“Iyaa bener juga, masa’ cuman perkara dibangunin dari tidur siang aja begitu melek masih sempet-sempetnya inget untuk bilang arigato (terimakasih), kataku dalam hati. 

Aku lantas teringat kejadian beberapa hari yang lalu sepulang dari kampus membawa sisa camilanku yang tidak habis kumakan di lab. Abang menyambutku sambil bertanya, “Ummi, kore tabete ii ?” (Ummi, ini boleh abang makan ?). 

Ketika melihatku mengangguk si abang lantas berkata “Ummi, arigatou nee… oishii mono katte kurete, arigatou” . (Ummi, makasih yaa udah beliin abang makanan enak).

Deeg,… aku tersenyum kecut sambil melihat camilan yang mungkin sudah tidak sampai sepertiga lagi isinya. “Duuh,… kesindir anak kecil niih”, gumamku. Padahal camilan itu bukanlah makanan yang mewah atau enak sekali, dan kurasa cukup sering aku membelikan anak-anak panganan kecil semacam itu. Tapi entah mengapa, apresiasi yang diberikan seakan-akan melebihi apa yang diterimanya. Hhmm…khas nihonjin (orang Jepang). 

Memang begitulah salah satu budaya yang baik dari orang Jepang, lidah mereka terasa ringan untuk mengucapkan terima kasih. Jangankan untuk hal-hal yang besar, untuk hal-hal sepele saja orang Jepang mudah sekali memberikan apresiasi. 

Contoh yang sering dijumpai adalah bila kita masuk ke sebuah toko, walaupun kita tidak membeli sesuatu, katakanlah hanya sekedar window shopping, saat kita keluar dari toko, pelayan akan langsung memasang senyum dan mengucapkan arigatou gozaimasu (terima kasih) sambil sedikit membungkukkan badannya. Bagi orang Jepang kata-kata “Terima kasih” lazim diucapkan sampai tiga kali. Pertama, disaat mereka menerima barang atau bantuan jasa. Kedua, selang beberapa hari kemudian biasanya orang Jepang akan telfon untuk mengucapkan terima kasih atau pada kasus terhadap orang yang dihormati, biasanya mereka akan mengirimkan kartu pos tertulis ucapan terima kasih. Ketiga, saat jumpa kembali, mereka akan spontan mengatakan “Senjitsu domo arigatou” (Terima kasih yaa untuk kejadian waktu itu). 

Duh indahnya,… bila menerima perlakuan baik, mereka akan benar-benar mengingat dan menghargai. Belum lagi kebiasaan mereka berbalas hadiah, bila kita memberikan sesuatu hadiah, jangan heran bila selang beberapa hari mereka akan mengirimkan hadiah balasan sebagai ungkapan terima kasih. 

Coba mari kita buka lembaran hadist, sebenarnya Rasulullah SAW manusia agung yang dirahmati Allah, 14 abad yang lampau telah mengajarkan kita untuk berlaku serupa. Sebagaimana tertera dalam sebuah hadist yang bersumber dari Hadath Asy’as ra. Rasulullah SAW bersabda : 

“Orang-orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah ialah orang-orang yang paling banyak bersyukur/berterima kasih pada orang-orang “. (Al-Mu’jam Al Kabir Lit-Tabrani). 

Lantas mengapa kadang kita masih saja sulit untuk mengapresiasikan kebaikan orang-orang di sekeliling kita?. 

Saya teringat keluhan seorang kawan muslimah beberapa waktu yang lalu, “Bu Na, suami saya tuh kalau ke orang lain perasaan gampang banget deh bilang ‘Jazakumulloh khoiron katsiroo” (Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan lebih baik dan banyak). Tapi, misalnya kalo saya abis masak besar untuk menjamu temen-temen suami, trus nyuci setumpuk piring kotor, atau ngebuatin suami teh manis, hhmm… boro-boro ada ucapan singkat ‘terima kasih’, suami bisa noleh sambil senyum aja sudah bagus banget, eeh,…yang ada suami terus aja asyik melototin monitor”. “Eeeh, bukannya saya ngga ikhlas lho yaa… tapi khan seneng aja kalo suami tuh menghargai pekerjaan kita, jadi semangat gitu mau ngapa-ngapain”, tutur kawan tersebut. 

Sebenarnya ini bukanlah yang pertama kali saya mendengar curhat yang senada. Memang benar juga, kadang saya amati, para bapak acapkali memandang apa yang sudah dikerjakan isteri adalah kewajiban yang sudah sepatutkan dikerjakan. 

Padahal, sebenarnya tidak sedikit hal-hal yang dikerjakan isteri itu adalah justru merupakan kewajiban suami. Hanya karena rasa sayang terhadap suami, atau niatan beramal dengan harapan mendapat pahala yang lebih dari Allah, maka tugas-tugas suami lantas diambil alih, dan bila sudah keterusan, lama-kelamaan suami menganggap itu adalah sudah kewajiban isteri. Sehingga yang dulu awalnya hati selalu bersyukur, ucapan terima kasih senantiasa terucap tatkala isteri membantu meringankan tugas, lambat laun akan terlena, maka hilanglah sudah ucapan-ucapanterima kasih dan do’a “jazakillah khoir” itu.

Coba anda ingat, kapankah terkahir kali anda mengucapkan kata-kata mesra ungkapan terima kasih penuh do’a pada isteri anda?. Bila anda sudah lupa, tunggu apa lagi? alihkan sejenak pandangan anda dari layar monitor ini. Lantas segeralah buzz atau telfon isteri anda, dan katakanlah… insyallah sepulang anda kerja, isteri anda akan menyambut dengan mesra dan penuh kehangatan.

Kirana Ummu Syahid
ummu@syahid.com

Mas, buat laundry service selama 8 tahun ini, ade do’ain jazakalloh khoir
kore karamo yoroshiku nee….



sumber : eramuslim

Sebuah diskusi kecil di dalam ruang kelas, terdiri atas beberapa anak-anak muda dan masih murni belum terkotori oleh debu-debu ribawi. Sebuah pertanyaan terlontar, “Apa jadinya bila seluruh orang yang ada di dunia ini diberikan oleh Allah SWT satu kilogram emas perorang? 

Mereka dengan penuh tanda tanya dan merasa aneh menjawab “Ngga bakalan ada yang mau kerja”, “ngga bakalan ada yang jadi tukang sapu”, “ngga bakalan ada yang jadi sopir” tetapi ada satu jawaban smart yaitu, harga emas akan menjadi turun dan emas tidak akan berharga lagi. "Smart", saya bilang.

Pertanyaan kedua, “Apa jadinya bila Allah menjadikan semua orang dimuka bumi menjadi S-3 semua?” Ada banyak jawaban, “semua orang jadi pinter”, “semua akan jadi professor”, yang pasti harga pendidikan tidak akan semahal ini, bahkan boleh jadi ilmu begitu murahnya sehingga orang tidak merasa terhormat bila menyandang gelar S-3 lagi, karena tukang sapu pun bergelar S-3. 

Jadi apa yang kita cari? Apakah kekayaan yang begitu banyak, ataukah gelar yang terhormat? Mengapa Allah SWT tidak menciptakan semua orang dimuka bumi menjadi kaya dan mengapakah Allah SWT tidak menjadikan manusia bergelar S-3 semua. Mengapa ada yang perlu menjadi tukang tambal ban, penjaga sekolah, menjadi tukang sapu, menjadi sopir, menjadi tukang ojek. Mengapa Allah SWT tidak mengangkat mereka semua menjadi Presiden Indonesia? Atau menjadi Sekjen PBB? Atau menjadikan mereka semua menjadi Perdana Menteri atau Kanselir? 

Mungkin ini pertanyaan yang rada tolol, tapi pernahkah kita berpikir tentang hal ini? Ada apa dibalik semua ini? Bukankah bagi Allah SWT Maha Segalanya dan mudah bagi Allah menciptakan manusia menjadi Presiden semua dan mudah bagi Allah untuk menciptakan manusia ini menjadi Perdana Mentri semua. Tapi sudah sunnatullah ternyata Allah menginginkan manusia mengambil manfaat dari semua ini. Bila tak ada lagi tukang tambal ban, dapatkah kita bayangkan kesulitan yang akan terjadi yang menimpa kita? Bila tidak ada tukang sampah maka kita akan kebauan sampai berkilo-kilo meter, bila tidak ada yang menjadi tukang sapu maka apa jadinya lantai di rumah, kantor dan masjid serta tempat ibadah lainnya? 

Pemilu 2004 menjadikan semua rakyat Indonesia berkeinginan menjadi presiden RI dengan segala cara. Ada yang lewat konvensional, meskipun sudah bebas dari ancaman terdakwa tetapi ambisi masih ada. Ada pula yang menjual diri kepada masing-masing partai untuk mengangkat dirinya menjadi presiden meskipun bukan orang partai. Ada pula yang asik berkoar-koar menarik konstituen partainya agar terpilih menjadi presiden dengan berbagai macam cara.

Apakah yang diinginkan oleh Allah SWT sebenarnya? Hanya satu yang diinginkan oleh Allah SWT dan keinginan Allah SWT tidak diterjemahkan secara benar oleh umat manusia sejak dari nabi Adam sampai Muhammad SAW, yaitu menyembah Allah, sujud kepada Allah adalah lebih baik daripada menjadi seorang Presiden RI, sujud kepada Allah adalah lebih baik daripada menjadi seorang ketua DPR RI, sujud kepada Allah akan menyebabkan derajat orang menjadi tinggi, bukan sebaliknya. Apabila semua orang sujud kepada Allah, harga sujud bukan semakin rendah seperti harga emas, akan tetapi dengan sujud kepada Allah, Allah justru membukakan pintu barakah bagi seluruh penduduk yang sujud kepada-Nya, sujud menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya dan tidak akan mengalami devaluasi.

Maukah kita sujud tengah malam dan mendoakan agar pemimpin kita adalah orang muslim, tidak berdusta, tidak khianat, tidak ingkar janji, tidak korupsi, tidak berzina, sejauh mana sujud kita kepada Allah telah merubah bangsa ini?

Husnul Yanwar 
husnul_ssi@yahoo.com


sumber : eramuslim 

Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran. 

Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup. 

Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). 

Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka. 

Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo'a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di dunia ini. 

Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam. 

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83). 

Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya. 

Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’: 145) 

Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82). 

Jadi apa salahnya menangis?. 

Herman Susilo
pr@ydsf.or.id



sumber : eramuslim

Dua malam yang lalu, seperti biasa aku duduk didepan meja bundarku. Aku ditemani pena yang menggelayut erat dalam lipatan jariku berpikir mengumpulkan hal-hal baru yang menarik dan dapat kurangkai dalam kata-kata. Ya, itulah kebiasaanku, menulis di tengah heningnya malam dan kegelapannya. Sebuah kebiasaan yang telah dipahami dengan sendirinya oleh para rekan dan keluargaku.

Belum lama aku tenggelam dalam perenunganku, dan belum sebuah masalah pun yang tergambar dalam otakku. Tiba-tiba sebuah sengatan tajam menusuk kulit telingaku, lalu pindah ketanganku.... Pikiranku buyar.. tapi ternyata kebuyaran itu membentuk sebuah hal baru yang muncul dalam pikiranku. 

Seekor nyamuk telah menggangguku. Aku berusaha menepuknya, tapi sayapnya lebih cepat membawa lari mungil tubuhnya. Aku mencoba buka jendela, dan dengan cara itu ada gerombolan nyamuk lain yang langsung menerjang masuk. Kuhantam mereka dengan satu kibasan.... Luar biasa ternyata mereka mampu menghindar dengan berpencar.... Sungguh baru kali ini aku melihat ada sebuah umat yang dengan jalan berpencar dan berbeda arah malah mampu menyelamatkan kehidupannya. Mereka adalah nyamuk-nyamuk yang pandai.

Kalau begitu alangkah lemahnya manusia, yang selalu merasa paling pandai dan merasa paling kuat, bahkan merasa selalu ingin menguasai dunia ini dengan kekuatan... Padahal mereka kadang malah tertipu dengan keangkuhannya, merasa kuat, tapi untuk membunuh serangga kecil itu dengan satu kibasan saja kadang tak mampu...

Kalau manusia mau berpikir, bahwa antara manusia yang berakal, hewan yang berinsting, tumbuhan yang berkembang, ataupun benda mati yang diam semuanya tak akan ada kekuatan apapun kecuali berkat karunia ilahiyah semata. Tapi itulah yang kerap dilupakan. 

Aku menemukan beberapa kesamaan antara nyamuk dan manusia. 

Pertama, nyamuk mencari jalan hidupnya dengan mengisap darah, namun terkadang ia berlebihan dalam isapannya sehingga kecil badannya tak mampu menampung semua hasilnya tadi. Begitupun ia terus mengisap tak mau berhenti, hingga akhirnya perutnya kembung dan hampir pecah dengan sendirinya... Sungguh ia mencari hidup melalui jalan kematian, dan mencari jalan keselamatan namun disarang bahaya.

Kalau lah boleh kita qiyaskan maka ia tak jauh beda dengan orang serakah dan pecandu narkoba, pada isapan dan hirupan pertamanya ia merasa melihat surga dan kebahagiaan, sehingga ia tertuntut untuk kedua, dan ketiga kalinya bahkan seterusnya... Hingga menjadi sebuah kedahagaan tersendiri jika ia tak mengulanginya. Sementara ia tidak menyadari bahwa kefanaan telah mengintai dirinya dengan taring-taring yang menyeringai.

Kedua, nyamuk adalah mahluk yang tak mempunyai siasat mencari hidup yang baik. Hal itu dapat kita lihat saat ia hinggap pada tubuh manusia, ia tak hinggap kecuali dengan membawa dengungan suara yang yang menandakan akan kedatangannya. Akhirnya secara otomatis tubuh yang ia hinggapi tadi akan sgera menampiknya dan menggagalkan usahanya. 

Toh kalau boleh kita kiyaskan maka ia tak lebih bagaikan seorang politikus yang bodoh, yang banyak ngoceh sana-sini, dan mengumbar statement tanpa karuan yang akhirnya statemen-statemen itu malah menghancurkanya, dan membuat musuh dapat berbuat sekehendak hati padanya, bahkan menyerangnya dengan serangan balik yang tidak ia sadari...

Ketiga, nyamuk yang dengan keringanan tubuhnya mampu hinggap di tubuh manusia dengan hampir tak terasa sedikitpun. Tapi sengatan dan gigitan yang ditimbulkan olehnya betul-betul perih dan menyakitkan. Ini bisa dianalogikan seperti seorang yang dengan segala senyum manisnya berusaha untuk memikiat hati orang lain, hingga saking indah dan mesranya senyum itu, kita tak mempunyai sedikit prsangka buruk kepadanya. Tapi ternyata dibalik senyum nan indah dan bersahaja itu tersimpan sejuta tujuan nan jahat bahkan sanggup mengahancurkan dan "menyengat" kita jika maksud dan tujuannnya telah tercapai.

Diterjemahkan dari Kitab AN-NAZARAT Oleh Musthofa Luthfi el Manfaluthi.
vhemy@yahoo.com



sumber : eramuslim

Ada orang mengatakan, “Berbohonglah, berbohonglah, dan berbohonglah, maka kebohongan itu akan jadi sebuah kebenaran.”
Saya setuju dengan statement orang tersebut, kalau sebuah ide bohong terus saja diulang-ulangi, maka ide itu akan menjadi hal biasa dan seakan diterima oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran, tanpa ada keraguan dari mereka untuk me-recheck-nya.
Sebut saja, kebohongan besar dalam Cerita 1001 Malam, dimana pembohong itu menggambarkan khalifah Harun Ar Rasyid sebagai seorang raja yang suka main perempuan, suka mabuk-mabukan dan sangat mudah dikibuli oleh tokoh fiktif jenaka dan kocak, Abu Nawas. Padahal, ulama-ulama yang hidup pada masa itu dan para pakar sejarah Islam sepakat mengatakan, “Harun Ar Rasyid adalah khalifah yang mendermakan hidupnya demi Islam dan umat Islam, setahun dia ibadah dan setahun berjihad.”
Atau kebohongan teori yang ditawarkan Charles Darwin tentang The Origin of Species, bahwa semua makhluk hidup itu ada dalam bentuk sangat sederhana dan terus berevolusi ke arah yang lebih sempurna, dari monyet menjadi manusia, kita manusia hari ini kapan berevolusi lagi? Kok, masih begini-begini saja?
Ini adalah efek dari opini umum, ternyata sebuah kebohongan dan kepalsuan bisa diubah menjadi sebuah kebenaran yang diterima (meskipun itu bukan kenyataan) oleh masyarakat apabila kita bisa mengemas kebohongan itu sedemikian rupa dan kita pasarkan di masyarakat, sehingga bisa menjadi opini umum. Ide yang bagus kalau punya bargain dan daya persuasif yang tinggi, sehingga keta-kata orang bijak tadi bisa direalisasikan, “Berbohonglah, berbohonglah, berbohonglah, maka kebohongan itu akan jadi kebenaran.”
Itu efek negatifyang tersebar lewat opini umum yang menyesatkan. Dan bisa dipastikan orang yang menyebarkan itu akan mendapatkan efek dari sunnah sayyiah atau jariyah suu’ yang ditanamnya itu, berupa dosa selama kebohongan itu masih dipakai. Sama halnya dengan orang yang menanam kebaikan, dia akan selalu menuai pahala selama kebaikan itu masih dipakai manusia. Jadi, berhati-hatilah dalam berbuat, apalagi perbuatan yang berhubungan dengan sesama manusia. Dia terlihat kecil, tapi efeknya besar.
Dalam Islam, ada sebuah prinsip mendasar yang diajarkan, yaitu mabda’ tasattur, prinsip menutupi hal-hal negatif. Prinsip ini adalah intisari dari sebuah hadits yang bermakna bahwa Allah tidak akan menyayangi dan sangat benci terhadap orang yang berbuat maksiat pada malam hari, dan Allah menutupinya, tetapi malah dia sendiri besok pagi yang membuka perbuatan itu kepada manusia.
Dalam hadits tersebut, si pelaku diancam dengan ancaman cukup berat, yaitu mendapatkan kebencian Allah dan dijauhkan dari kasih sayang Allah besok di akhirat. Kalau Allah sudah benci, tidak ada gunanya mendapatkan simpati dan kasih sayang penduduk bumi dari Nabi Adam sampai manusia terakhir sebelum kiamat! Anta maqsudi wa ridhaka matlubi… Engkaulah Tuhan tujuanku, dan ridha-Mulah yang ku mau….
Prinsip ini dimulai dari kejahatan pribadi, kemudian pakar hukum membakukannya menjadi sebuah prinsip dalam Islam,mabda’ tasattur, yaitu menutupi kejahatan dan nilai-nilai negatif dalam masyarakat agar tidak merusak opini umum, sehingga hal negatif yang terbentuk menjadi opini umum akan menjadi hal biasa yang tidak diingkari lagi, padahal hal negatif yang dianggap biasa itu adalah musuh social.
Islam sangat menjaga hal itu, sebut saja contohnya kenapa Islam sangat memberatkan hukuman bagi orang yang murtad dari agama Islam secara terang-terangan, hukumannya adalah death penalty. Karena, saat dia keluar dari Islam secara terang-terangan dan menodai kesucian agama, dia telah membuat sebuah opini baru, sehingga terkesan beragama itu adalah tindakan main-main. Lihatlah penodaan agama (apapun agamanya) di negeri kita sudah menjadi hal-hal biasa, bahkan kadang-kadang sesuatu yang sakral dalam agama cuma menjadi bahan olok-olokan.
Dalam hukum, menurut Imam Abu Hanifah, apabila seorang “Presiden” melakukan pelanggaran hudud, maka boleh eksekusinya tidak dilakukan di depan umum seperti halnya masyarakat lain. Kenapa? Karena wibawa presiden harus lebih dijaga, karena presiden itu berbeda dengan masyarakat biasa. Lihatlah presiden kita, semua orang memiliki kebebasan mengungkapkan “isi perutnya” terhadap presiden, mau buat karikatur silahkan, mau mengeluarkan cacian silahkan, semua bebas.
Ide penambahan materi baru di sekolah di Indonesia, materi “Anti Korupsi”. Ide bagus, bagus untuk mengajarkan anak-anak muda sejarah koruptor, trik-trik mereka korupsi, dan lahan-lahan subur untuk korupsi. Materi itu tidak lain hanya akan melahirkan koruptor-koruptor masa depan yang lebih handal. Karena mereka dikenalkan dengan korupsi dan tokoh-tokohnya. Itu adalah salah satu cara mengajarkan kejahatan di sekolah. Kalau mau mendidik generasi yang anti korupsi, jangan mengajarkan materi anti korupsi, tapi ajarkan mereka akhlak, tanamkan dalam diri mereka kejujuran, dan sifat amanah. Kalau anak-anak dicekoki dengan akhlak, amanah dan kejujuran, maka bukan saja korupsi yang teratasi, tapi juga kolusi, nepotisme, prostitusi, pengangguran dan ratusan tindak kriminal lain akan hilang.
Siaran televisi seperti gosip dan acara-acara tayangan tentang criminal lainnya juga salah satu perbuatan yang melanggar mabda’ tasattur. Lihat saja dalam acara “Siluet” misalnya, bagaimana mereka menceritakan kronologis pembunuhan, pemerkosaan dan perampokan, bukankah itu sebuah cara untuk mengajari yang nonton? Gosip perselingkuhan, perceraian, bukankah itu menyebarkan aib yang tidak seharusnya dibanggakan!
Oke, kita terima alasan, “Mengetahui kejahatan bukan untuk melakukannya, tapi agar kita bisa menghindari”, tapi apakah semua orang berpikiran bagitu? Ini hal kecil yang dianggap remeh, ternyata efeknya begitu besar. Kenapa kita selalu terpaku dengan sistem pengajaran denga cara negatif? Kenapa kita tidak berusaha membina generasi dengan nilai-nilai positif, bukankah nilai-nilai positif jauh lebih berguna dari pada hal-hal negatif?
Pembunuhan, pemerkosaan, perampokan sekarang menjadi hal biasa di masyarakat, kenapa sampai pelakunya anak kecil atau korbannya anak kecil? Itu semua karena nilai-nilai negatif yang seharusnya ditutupi, malah dipamer. Sesuatu yang luar biasa, apabila terjadi setiap hari akan menjadi biasa, nggak ada istimewanya lagi. Akhirnya nyawa orang lain tidak berharga, kehormatan orang lain dengan mudahnya dinistai, dan hak milik orang seakan bisa dipakai suka hati.
Itu mungkin contoh untuk ranah yang luas, kita lihat saja ranah yang lebih sempit. Update status-status di Facebook. Banyak orang yang dengan bangganya menuliskan hal-hal yang seharusnya dirahasiakan, di wall dan status-status mereka. Bahkan kadang-kadang hal-hal yang seharusnya tidak boleh keluar “kamar”, hal-hal yang sangat tabu untuk diungkapkan di depan publik, ini malah ditulis di status Facebook.
Salah satu manusia yang terlaknat adalah suami atau istri yang menceritakan kejadian “dalam kamarnya” kepada orang lain. Berapa laknat yang dituai bila di-share hal-hal itu di facebook, ratusan atau bahkan ribuan orang yang membacanya. Isinya nggak terlalu vulgar-vulgar bangat, tetapi menjurus ke sana. Jangan katakan, “Salah yang baca, ngapain fiktor!”, tapi tulisan Anda yang sebodoh apapun orang bisa memahami kemana tujuan yang tersirat itu yang salah.
Sebenarnya, yang ditulis biasa saja, just for fun, nggak serius-serius banget, tetapi apakah ribuan orang yang baca di dunia maya itu memiliki pikiran yang positif semua? Foto-foto yang di-uploadyang menurut pelakunya adalah biasa, tetapi bagi orang lain ada “ekornya” yang terus berlanjut tidak hanya sampai disitu saja.
Contoh kecil, waktu jalan-jalan di mall, ada perempuan cantik seksi lewat, Anda lihat, tapi kawanmu tidak melihat. Anda tepuk bahunya, Anda bilang, “Eh, ada perempuan cakep, Coy… Itu lewat!”
Bagi Anda cuma hal biasa, hanya sekedar bercanda melihat perempuan lewat, tapi apa Anda yakin kalau kawan Anda itu hanya sampai di situ? Anda tahu apa yang dibisikkan setan saat kawan Anda berpaling melihat perempuan tadi? Bagi Anda, setelah melihat semua sudah berakhir, Cuma sampai disitu saja, tetapi bagi kawanmu, belum tentu sampai disitu saja, mungkin ada kelanjutannya bersama setan yang menemaninya, entah apa yang terjadi. Itu hal kecil yang Anda lakukan, tetapi setiap dosa yang dihasilkan kawanmu setelah Anda menepuk pundaknya untuk melihat perempuan tadi, bisa dipastikan masuk dalam deposito dosa Anda.
Aurat wanita dalam Islam di depan laki-laki adalah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan, tetapi sesama wanita muslimat lebih longgar, bisa dilegalkan bagian-bagian lain terlihat. Tetapi aurat wanita Muslimat di depan wanita non-Mmuslimat sama seperti auratnya di depan laki-laki.  Itu adalah tindakan preventif agar si wanita non Muslimah tidak bisa menggambarkan keadaan wanita Muslimah pada laki-laki non-Muslim. Bahkan, diharamkan seorang wanita menggambarkan tentang kecantikan wanita lain secara mendetail kepada suaminya. Mungkin bagi wanita itu, yang dilakukannya hal biasa, tapi apa dia bisa menjamin setan tidak membisiki apa-apa kepada suaminya?
Kata-kata, perbuatan, ataupun ide-ide kecil yang Anda kira sepele dalam pergaulan, bisa jadi berefek fatal bagi orang lain. Makanya Islam sangat menganjurkan bagi semua umat Islam agar menjaga hal-hal negatif sekecil apapun itu agar tidak tersebar dalam masyarakat, karena hal-hal kecil itu bisa saja merusak opini umum yang menyebabkan tersebarnya hal-hal negatif yang seharusnya tabu sebagai sebuah fenomena biasa. Aib, dan hal-hal negatifsilahkan ditutup selama masih bisa ditutup, dan aku kira selamanya bisa ditutup kalau mau. Inilah yang disebut dengan“The Butterfly Effect: flap of a butterfly’s wing in Brazilia set off Tornado in Texas”, Kepakan sayap kupu-kupu di hutan Brazil bisa membuat Tornado di Texas.
Wallahu A’lam
Saief Alemdar, Lc

Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.

Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan.

Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula. 

Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. An Nuur: 30-31)

Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu".

Hati berkata kepada Mata

Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya", kau salahi sabda Rasulullah Saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya". (H.R. Ahmad)

Sanggahan Mata terhadap Hati

Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi buidak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda: "Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati." (H.R. Bukhori Muslim dan lainnya).

Abu Hurairah Ra. Berkata, "Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya". Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.

Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita. 

Robb, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu. 

Allaahumma ‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafiniifii sam’ii, Allaahumma ‘aafinii fii bashorii. Aamiin. 

Ya Allah, sehatkanlah badanku, sehatkanlah pendengaranku, sehatkanlah penglihatanku. (Ummu Shofi/ari_aji_astuti@yahoo.com).



sumber : eramuslim